Karena sesuatu dan lain hal, blog kami yang awalnya bernama sabangiskandar.blogspot.com diganti menjadi aksiputer.blogspot.com

25 Maret 2008

Penilaian Kinerja Keuangan: Analisis Berdasarkan Economic Added Value

Penilaian Kinerja Keuangan: Analisis Berdasarkan Economic Added Value (EVA)

Oleh Nasir

Abstract:

The purpose of the study is to explain the concept of Economic Value Added (EVA) as a method of performance measuring. Also, The paper discuss whether EVA is a superior performance measure both for corporate reporting and for internal governance. To use in application, some tools are used such as Net Operating Profit After Tax/NOPAT, Cost of Capital, Cost of Debt, Cost of Preferred Stock, Cost of Equity, Weighted Average Cost of Capital/WACC. There are three standards of EVA analysis. If EVA > 1: very health performance; EVA = 0 : health performance, and if EVA <>the wealth of the shareholder, which is synonymous with the maximization of the firm value.

Keywords: Performance, EVA, shareholder

I. Pendahuluan

Dalam lingkungan persaingan yang semakin ketat, proses pengambilan keputusan manajemen perlu didukung dengan sistem kenerja integratif, di mana secara internal konsisten dengan visi, misi, dan strategi perusahaan yang disertai dengan umpan balik (feedback) yang semakin cepat, serempak dan simultan (Sony Yuhono dkk, 2006: 27). Sistem kinerja integratif akan menilai prestasi yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya dalam semua aspek, khususnya terkait dengan aspek keuangan.

Selanjutnya, Sony Waluyo dkk (2006: 23) mendefinisikan penilaian kinerja sebagai suatu tindakan pengukuran yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas perusahaan yang digunakan sebagai umpan balik (feedback) yang akan memberikan informasi tentang pelaksanaan suatu rencana. Penilain kinerja ini dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (stakeholders), misalnya investor, kreditur, karyawan, pemerintah dan pihak manajemen.

Untuk mengukur kinerja dan kondisi perusahaan saat ini serta prospek perusahaan di masa yang akan datang, maka kreditor dan investor sebagai pihak yang berkepentingan dapat menganalisisnya melalui laporan keuangan emiten yang sudah dipublikasikan di Pasar Modal. Publikasi laporan keuangan di Pasar Modal pada umumnya menggunakan indikator seperti Return On Equity (ROE), Earning PerShare (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Invesment (ROI) perusahaan.

Menurut Sony Yuhono dkk. (2006: 26), ROI termasuk yang paling banyak digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja keuangan karena keunggulan-keunggulannya, seperti:

a. ROI merupakan tolok ukur tunggal yang komprehensif yang dapat menunjukkan trade-off antara pendapatan, biaya, dan investasi;

b. ROI dapat digunakan untuk membandingkan kinerja dari berbagai sektor bisnis, baik pesaing, divisi, maupun dalam industri;

c. Hasil perhitungan ROI dapat dibangdingkan dengan tolok ukur keuangan lainnya.

Dalam perkembangannya, penilaian kinerja dengan menggunakan ROI juga mengalami beberapa kelemahan-kelemahan, yaitu:

a. Dasar perhitungan yang digunakan adalah laba Akuntansi yang lebih bersifat earning management, dimana manajer dapat mempengaruhi ROI untuk kepentingan jangka pendek dan merugikan perusahaan dalam jangka panjang;

b. Keputusan investasi yang berdasarkan ROI mempunyai kecenderungan suboptimalisasi keputusan, yaitu manajer lebih mempertimbangkan keuntungan divisinya dengan mengorbangkan kepentingan perusahaan secara keseluruhan;

c. Hasil perhitungan ROI bersifat bias karena faktor kesulitan dalam menghitung nilai investasi sebagai dominator ROI.

Penilaian kinerja keuangan yang lain adalah analisa rasio (ratio analysis) yang telah banyak digunakan dalam perusahaan. Fokus utama analisis tersebut adalah membandingkan pos-pos dalam laporan keuangan, misalnya pos-pos neraca dan pos-pos laporan rugi-laba. Namun, penilaian kinerja perusahaan dengan menggunakan analisis rasio keuangan tersebut ternyata tidak selalu dapat menghasilkan suatu penilaian kinerja yang optimal.

Kendala-kendala utama analisis rasio keuangan yaitu penggunaan data perusahaan lain yang sejenis sebagai pembanding dapat mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran, karena adanya perbedaan product lines maupun kekhususan produk dan perbedaan dalam penerapan metode akuntansi.

Secara umum, kelemahan dari rasio tersebut adalah mengabaikan adanya biaya modal (Cost of Capital), sehingga sulit untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah mcnciptakan nilai atau tidak. Biaya modal menunjukkan bahwa kompensasi atau pengembalian yang dituntut oleh investor atas modal yang ditanamkan dalam suatu perusahaan.

Dengan melihat adanya keterbatasan-keterbatasan analisis ROI dan rasio keuangan yang selama ini banyak digunakan, maka pada tahun 1991 lembaga konsultan Stern Stewart & Co. mengembangkan dan mempopulerkan Economic Value Added (EVA) yang merupakan cara untuk mengukur profitabilitas operasi yang sesungguhnya karena telah memperhitungkan biaya modal (Cost of Capital). Lebih jauh DeMello (2006:131) mengatakan bahwa EVA merupakan ukuran kinerja keuangan yang lebih mampu menangkap laba ekonomis perusahaan yang sebenarnya dibandingkan metode-metode lain.

Eva melakukan perbaikan terhadap ROI dengan mencoba mengoreksi laba operasi setelah pajak dengan menambahkan cadangan-cadangan ekuitas ekuaivalen, seperti cadangan piutang tak tertagih, amortisasi kumulatif goodwill, dan aktiva yang dikapitalisir ke modal serta menambahkan beban periodik dari cadangan-cadangan tersebut ke laba operasi setelah pajak (Sony Waluyo dkk., 2006: 27).

2. Sistem Pengukuran Kinerja

Perkembangan bisnis saat ini memfokuskan pada pelanggan (custumer-focused). Hal ini berarti segala aktivitas perusahaan diorientasikan bagaimana memuaskan pelanggan. Oleh karena itu, keefektifan suatu sistem pengukuran sangat mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan.

Sistem pengukuran kinerja yang efektif memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

a. Didasarkan pada masing-masing aktivitas dan karakteristik organisasi itu sendiri;

b. Sesuai dengan seluruh aspek kinerja aktivitas yang mempengaruhi pelanggan, sehingga menghasilkan penilaian yang efektif;

c. Memberikan umpan balik (feedback) untuk membantu seluruh anggota organisasi mengenai masalah-masalah yang kemungkinan perbaikan.

Secara umum, penilaian kinerja dengan tolok ukur keuangan telah membantu pihak manajemen untuk mengetahui sejauh mana tujuan perusahaan telah tercapai, menilai presatsi bisnis secara kuantitatif serta memprediksi harapan-harapan perusahaan di masa datang. Namun demikian, Menurut Sony Waluyo dkk. (2006:29), penggunaan tolok ukur keuangan sebagai satu-satunya pengukur kinerja perusahaan memiliki banyak kelemahan, antara lain:

a. Pemakaian kinerja keuangan sebagai satu-satunya penentu kinerja perusahaan dapat mendorong manajer untuk mengambil tindakan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.

b. Secara umum, mengabaikan aspek pengukuran non-financial dan intangible asset baik sumber internal maupun eksternal. Akibatnya, akan memberikan pandangan yang keliru bagi manajer mengenai perusahaan di masa sekarang dan di masa datang.

c. Kinerja keuangan hanya memfokuskan pada kinerja masa lalu, sehingga kurang mampu membantu perusahaan dalam mencapai tujuannya.

3. Pengertiaan EVA

Konsep Economic Value Added (EVA) pertama kali dikembangkan oleh G. Rennet Stewart dan Joel M. Stern, analis keuangan dari New York pada tahun 1991. Stewart dan Stern ( 1991: 118) mendefinisikan EVA sebagai berikut:

"EVA is residual income measure that substact the cost of capital from the operating profits generated in the business, it's a measure to account properly for all of the way in which corporate value may be added or lost. EVA will increase if operating profits can be made to grow without tying up any more capital. If new capital is invested any and all projects that earn more than the full cost of capital, and if capital is diverted or liquidated from business activities, that do not covers their cost of capitl'.

Definisi tersebut memberikan pandangan bahwa ukuran pandapatan sisa atau sisa laba yang diperoleh dengan mengurangkan biaya ekuitas dari laba operasi yang dihasilkan oleh perusahaan. Selanjutnya, EVA akan meningkat jika laba operasi dapat bertambah tanpa mengikat ekuitas lebih banyak, jika ekuitas baru diinvestasikan dalam salah satu atau keseluruhan proyek yang menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada seluruh biaya modal.

Penerapan EVA akan menjadi ukuran kinerja yang secara langsung berhubungan dengan kekayaan pemegang saham dari waktu ke waktu (DeMello, 2006: 131). Ini berarti, kinerja keuangan berbasis EVA akan membantu perusahaan yang menjadi kliennya mengambil keputusan yang akan menciptakan kekayaan pemegang saham paling besar.

Selanjutnya, analis keuangan lainnya menjelaskan bahwa

” EVA is the most misunderstood term among the practitioners of corporate finance. The proponents of EVA are presenting it as the wonder drug of the millennium in overcoming all corporate ills at one stroke and ultimately help in increasing the wealth of the shareholder, which is synonymous with the maximization of the firm value. The attractiveness of the EVA lies in its use of cash flow and cost of capital that are determinant of the value of the firm (Bhattacharyya, A.K. & B.V.Phani1, 2007:5).

Definisi tersebut menguraikan bahwa EVA merupakan alat ukur kinerja yang akan mengobati ‘sakit’ suatu perusahaan, sehingga membantu memaksimalkan nilai perusahaan.

Sedangkan pengertian EVA menurut Amin Widjaya Tunggal (2001: 1),EVA adalah ”suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operation cost) dan biaya modal (Cost of Capital)".

Daft, R.L. (2006:549) menambahkan bahwa EVA adalah cara baru untuk mengukur kinerja keuangan yang dapat didefinisikan sebagai laba operasi bersih (setelah pajak) dikurangi biaya modal yang diinvestasikan dalam aktiva nyata/actual. Mengukur kinerja yang berkenaan dengan EVA dimaksudkan untuk mencatat semua hal yang dapat dilakukan oleh sebuah perusahaan guna menambah nilai dari aktivitasnya, seperti menjalankan bisnis lebih efisien, memuaskan para pelanggan, dan memberi penghargaan untuk pemegang saham. Setiap pekerjaan, departemen, atau proses dalam organisasi diukur dengan nilai tambah.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa EVA merupakan keuntungan

operasional setelah pajak dikurangi dengan biaya modal, atau dengan kata lain EVA

merupakan pengukuran pendapatan sisa (Residual Income), yang mengurangkan biaya modal terhadap laba operasi. Jadi EVA ditentukan oleh dua hal yaitu keuntungan operasional bersih setelah pajak dan tingkat biaya modal. Laba operasi setelah pajak menggambarkan hasil penciptaan nilai di dalam perusahaan, sedangkan biaya modal dapat diartikan sebagai pengorbanan yang dikeluarkan dalam penciptaan nilai tersebut. Diperhitungkannya tingkat biaya modal atas ekuitas merupakan keunggulan pendekatan EVA, dibandingkan dengan pendekatan akuntansi lain dalam mengukur kinerja perusahaan.

4. Keuntungan Penggunaan EVA

Brealey and Myers (2000:327-328) berpendapat bahwa " A growing number of firms now calculate EVA and tie management compensation to it. They believe that a focus on EVA can help managers concentrate on increasing shareholder wealth and EVA makes cost of capital visible to operating managers".

Menurut Damodaran (2007:46) terdapat beberapa keuntungan konsep EVA:

“a. EVA is closely related to NPV. It is closest in spirit to corporate finance theory

that argues that the value of the firm will increase if you take positive NPV projects.

b. It avoids the problems associates with approaches that focus on percentage spreads - between ROE and Cost of Equity and ROC and Cost of Capital. These approaches may lead firms with high ROE to turn away good projects to avoid lowering their percentage spreads.

c. It makes top managers responsible for a measure that they have more control over - the return on capital and the cost of capital are affected by their decisions - rather than one that they feel they cannot control as well - the market price per share.

d. It is influenced by all of the decisions that managers have to make within a firm – the investment decisions and dividend decisions affect the return on capital and the financing decision affects the WACC”.

Menurut DeMello (2006: 132) keuntungan-keuntungan penggunaan EVA meliputi:

a. Cara pemegang saham menghitung laba. Dengan memperhitungkan seluruh biaya modal, EVA menunjukkan jumlah kekayaan berupa uang yang diciptakan oleh perusahaan dalam setiap pelaporan. Dengan kata lain, EVA merupakan cara pemegang saham menentukan laba. Misalkan, pemegang saham berharap imbal hasil atas investasi mereka sebesar 10%, angka ini dicapai jika laba operasi setelah pajak lebih besar 10%.

b. Menyelaraskan keputusan dengan kekayaan pemegang saham. Peningkatan EVA secara terus-menerus akan membawa peningkatan nilai pasar bagi perusahaan. Kinerja saat ini sudah tercermin dalam harga saham yang memberikan peningkatan pada kekayaan pemegang saham.

c. Konsep EVA mudah dipahami oleh manajer. Secara konseptual cukup sederhana, konsep EVA mudah dijelaskan kepada manajer yang tidak memiliki latar belakang keuangan karena EVA mudah dihitung

d. Mengurangi kebingungan akan banyaknya tujuan. EVA menghilangkan kebingungan dengan menggunakan ukuran keuangan tunggal yang menghubungkan seluruh pengambil keputusan (decision maker) dengan fokus bagaimana meningkatkan EVA karena EVA merupakan suatu sistem manajemen keuangan yang menghasilkan presepsi yang sama bagi karyawan di seluruh fungsi operasi.

Meskipun metode EVA telah memberikan banyak kegunaan dalam pengambilan keputusan, EVA juga memiliki beberapa kelemahan-kelemahan, misalnya EVA hanya menggambarkan penciptaan untuk suatu tahun tertentu. Sementara, nilai perusahaan adalah akumulasi EVA selama umur perusahaan.

5. Mekanisme Penilaian Kinerja dengan EVA

a. Laba Usaha Setelah Pajak (Net Operating Profit After Tax/NOP A T)

David and O'Byrne (2001:39), berpendapat bahwa "NOPAT merupakan laba operasi perusahaan setelah pajak, dan mengukur laba yang diperoleh perusahaan dari operasi berjalan".

NOPAT menurut Stewart dan Stern (1991: 85)," Is the profit derived from the company's operation after taxes but before financing costs and no-cash­ bookkeeping entries. As such, NOP AT also is the total pool of profit available to provide a cash return to all financial providers of capital to the firm".

Sedangkan menurut Amin Widjaya Tunggal (2001: 5), 'NOPAT adalah laba yang diperoleh dari operasi perusahaan setelah dikurangi pajak penghasilan, tetapi termasuk biaya keuangan (financial cost) dan " non cash book keeping entries" seperti biaya penyusutan"

Secara umum, NOPAT dapat dihitung sebagai berikut:

NOPAT = [Operating Income + Interest Income + Equity Income (income from subsidiary/affiliated companies + Other Income (Investment)] - [Other Loss - Income Taxes - Tax Shield on Interest Expense]

b. Biaya Modal (Cost of Capital)

Biaya modal (Cost of Capital) merupakan tingkat keuntungan yang diharapkan oleh penyedia dana sebagai imbalan atas dana yang ditanamkan pada suatu perusahaan dan melepaskan kesempatan untuk menanamkan dananya pada perusahaan lain.

Biaya modal (Cost of Capital) adalah biaya riel yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik yang berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa, maupun laba ditahan untuk mendanai suatu investasi atau operasi perusahaan (Martono dan Agus Harjito, 2003: 201)

Sedangkan menurut David and O'Byrne (2001: 5I) "Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan perusahaan dikalikan rata-rata tertimbang dari biaya modal (WACC)".

Dari beberapa pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Cost of Capital digunakan sebagai ukuran untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi. Untuk memperoleh Cost of Capital yang perlu dihitung adalah biaya dari masing-masing sumber dana dan biaya modal rata-rata dari keseluruhan dana yang digunakan dengan menghitung besarnya WACC.

1) Biaya Modal Individual

Biaya modal individual adalah biaya modal yang dihitung berdasarkan biaya untuk masing-masing sumber dana. Biaya modal individual tersebut dihitung satu per satu untuk tiap jenis modal. Biaya modal individual ini digunakan untuk menghitung biaya modal rata-ratanya (WACC).

Biaya Hutang (Cost of Debt)

Komponen biaya modal utang adalah tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh perusahaan terhadap modal pinjaman yang dilakukan perusahaan. Utang terdiri atas utang jangka panjang dan utang jangka pendek, dimana keduanya memiliki biaya modal sendiri. Komponen biaya modal utang juga memasukkan perhitungan tingkat pajak perusahaan, karena bunga bisa digunakan sebagai pengurang biaya pajak (tax deductab/e expense). Sehingga perhitungan biaya modal utang didasarkan atas perhitungan sesudah pajak. Dengan demikian komponen biaya modal utang adalah perkalian antara bunga yang harus dibayar oleh perusahaan dengan faktor koreksi (1­-t), dimana t adalah tingkat pajak perusahaan.

Berdasarkan pemyataan diatas, maka biaya utang dapat dirumuskan sebagai berikut:

Kd= kd (l-T)


Dimana:

Kd : biaya utang setelah pajak

Kd:

T : Tarifpajak

Biaya Saham Preferen (Cost of Preferred Stock)

Biaya tertentu dari saham preferen lazimnya lebih tinggi dibanding biaya utang dengan penilaian kualitas yang sama. Karena status saham preferen yang mendekati ekuitas, deviden preferen tidak bebas pajak bagi perusahaan yang mengeluarkan dan itu merupakan arus keluar dana setelah pajak (Helfert, 1993: 194). Pemegang saham preferen mendapat hak istimewa karena dalam hal likuidasi, pemegang saham ini lebih dulu mendapatkan pembagian kekayaan dari pada pemegang saham biasa. Biaya saham preferen dapat di rumuskan sebagai berikut:

Dimana:

Kp : biaya saham preferen

Dp : dividen saham preferen tahunan

Pn : harga saham preferen

Biaya ekuitas (Cost of Equity)

Biaya ekuitas (Cost of Equity) adalah tingkat pengembalian yang diperlukan pemegang saham atas saham biasa perusahaan. Pemegang saham biasa merupakan pemilik tersisa dari perusahaan dimana klaim saham biasa berlaku untuk semua aktiva dan laba yang dituntut oleh klaim sebelumnya. Untuk mengukur biaya ekuitas saham biasa dapat dilakukan melalui pendekatan deviden. Pendekatan deviden merupakan model pembiayaan ekuitas internal karena memperhitungkan biaya dana internal. Berdasarkan pendekatan deviden, maka biaya ekuitas saham biasa dapat dihitung dengan rumus:

Dimana:

Dj : dividen akhir periode

Po : harga pasar saham

g : tingkat pertumbuhan dividen

Untuk menghitung besarnya tingkat pertumbuhan dividen (g), Suad Husnan (2000: 74-75) merumuskan sebagai berikut:

g = (I-Dividend Payout) x ROE


2) Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (Weighted Average Cost of

Capital/WACC)

David and O'Byrne (2001: 39 & 149), berpendapat bahwa WACC sama dengan jumlah biaya dari setiap komponen modal­ utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan ekuitas pemegang saham-ditimbang berdasarkan proporsi relatifnya dalam struktur modal perusahaan pada nilai pasar.

Sehingga W ACC dihitung sebagai berikut:

WACC: ki+ ke

Dimana pembiayaan total sama dengan jumlah utang dan pembiayaan ekuitas, ki adalah biaya utang dan ke adalah biaya ekuitas. Lukas Setia Atmajaya (2002: 121) mengemukakan bahwa WACC dapat dihitung dengan rumus yang lebih terinci yaitu:

WACC = WdKd(1-T) + WpKp + Ws(Ks atau Ke)

Dimana:

WACC: Biaya modal rata-rata tertimbang

Wd : persentase hutang dari modal

Wp : pcrsentase saham preferen dari modal

Ws : pcrsentase saham biasa atau laba ditahan dari modal

Kd : biaya hutang

Kp : biaya saham preferen

Ks : biaya laba ditahan

Ke : biaya saham biasa baru

T : tarif pajak

Wd, Wp Ws didasarkan pada sasaran struktur modal (capital structure) perusahaan yang dihitung dengan nilai pasar (Market value )-nya. Setiap perusahaan harus memiliki struktur modal yang dapat meminumkan biaya modal sehingga dapat memaksimumkan harga saham.

C. Modal yang Diinvestasikan

Untuk dapat menghitung total biaya modal, kita perIu mengetahui modal yang diinvestasikan perusahaan. Modal yang diinvestasikan adalah seluruh pinjaman perusahaan diluar pinjaman jangka pendek yang tidak menanggung bunga. Modal yang diinvestasikan sama dengan jumlah dari aktiva perusahaan yang dalam perolehannya, perusahaan harus mengeluarkan biaya.

David and O'Byrne (2001:50), berpendapat bahwa "Pendekatan yang digunakan untuk menghitung modal yang diinvestasikan adalah pendekatan keuangan (financial Approach), yaitu menjumlahkan perbedaan bentuk pembiayaan (utang jangka pendek, utang jangka panjang, kewajiban jangka panjang lainnya, dan ekuitas pemegang saham)". Invested capital adalah jumlah seluruh pinjaman perusahaan di luar pinjaman jangka pcndek tanpa bunga (non-interest bearing liabilities), seperti hutang dagang, biaya yang masih harus dibayar, hutang pajak, uang muka pelanggan.

Invested capital dapat dihitung dengan dua cara, yaitu:

§ Pendekatan Operasi (operating approach)

Invested capital = Kas + Working capital requirement + Aktiva tetap

Dimana,

Working (capital requirement = (persediaan + piutang dagang + aktiva lancar lainnya) - (hutang dagang + biaya yang masih harus dibayar + hutang pajak + uang muka pelanggan).

§ Pendekatan Keuangan (financial approach)

Invested capital = Pinjaman jangka pendek + Pinjaman jangka panjang yang lain (interest bearing liabilities) + ekuitas pemegang saham (Amin Widjaya Tunggal, 2001: 5)

d. Formulasi Perhitungan EVA

Pengertian EVA menurut Godrej Consumer Product Limited (GCPL) (2007:46) merupakan selisih antara laba bersih setelah pajak dengan rata-rata tertimbang setelah dikalikan total capital employed. Dari definisi itu, EVA dapat dirumuskan sebagai berikut:

EVA = NOPAT – (WACC x CE)

Keterangan:

NOPAT = Net operating profit after taxes

WACC = Weighted average cost of capital

CE = Total capital employed

Sedangkan Amin Widjaya Tunggal (2001:5) membuat rumus EVA sebagai berikut:

EV A = NOPA T - biaya modal

Keterangan:

Biaya modal : WACC dikali dengan modal yang diinvestasikan

e. Standar Penilaian EVA

Konsep EVA menjelaskan tiga ukuran yang dapat diasumsikan dalam menilai tingkat kesehatan keuangan perusahaan, yaitu:

a. EVA > 0, berarti kinerja perusahaan tergolong sehat sekali karena telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan. lni bermakna laba yang tersedia mampu melebihi harapan investor, dapat mengembalikan pinjaman kreditur serta dapat menganggarkan pemberian bonus kepada karyawan.

b. EVA = 0, berarti kinerja perusahaan tergolong sehat karena berada dalam titik impas. lni bermakna laba yang tersedia cukup untuk memenuhi harapan kreditur dan investor.

C. EVA<>

f. Suatu Ilustrasi Aplikasi EVA

Godrej Consumer Product Limited (GCPL) mengukur kinerja keuangannya dengan menggunakan konsep EVA. Proses penyusunannya dapat dilihat pada tabel 1, 2, dan 3.

Tabel 1: Perhitungan NOPAT

Uraian/Remark

2006-07

2005-06

Profit before tax (PBT)

Interest

Profit on sale of Fixed Asset

Net operating Profi t before tax

Cash operating tax on PBT

Cash operating tax on interest

Tax Adjustments

Net operating Profi t after tax

(NOPAT)

134.4

5.8

0.1

140.3

(15.8)

(1.9)

4.8

127.4

131.3

4.3

(1.5)

134.1

(12.5)

(1.5)

0.5

120.5

Sumber: diadopsi dari GCPL, 2007

Menurut GCPL (2007:46) untuk menghitung WACC suatu perusahaan, maka harus menghitung cost of equity dan cost of debt .Pasar dianggap akan memberikan tambahan pendapatan terhadap resiko yang berpengaruh pada arus kas perusahaan. Hal ini dinamakan market premium (P) resiko yang sifatnya spesifikyang melebihi atu di ats market risk premium dinamakan leveraged beta (ß), yang merupakan rasio koefisien variasi dari stock prices perusahaan dibandingkan dengan pasar keseluruhan. Cost of equity merupakan risk free return (r) ditambahkan company premium (p x ß) kemudian dilakukan weighted ratio of equity to market value (e) untuk mendapatkan weighted cost of equity.

Tabel 2: Calculation of WACC

Uraian/Remark

2006-07

2005-06

Leverage beta (ß)

Market risk premium (P)

Equity risk premium (Pxß)

Risk free return (r)

Cost of equity {r+(Pxß)}

Equity/market value (e)

Wt. Cost of equity [{r+(Pß)}e

Pretax cost of borrowing (I)

Retention rate (1-tax rate)

Debt/market value (d)

Wt. Cost of debt {I(1-t)d}

WACC

0.68

8%

5.4%

7.0%

12.4%

0.95

11.8%

8%

5.3%

0.05

0.3%

12.1%

0.68

8%

5.4%

5.9%

11.4%

0.95

10.8%

8%

5.3%

0.05

0.3%

11.0%

Sumber: diadopsi dari GCPL, 2007

Tabel 3 shows the EVA generated by GCPL.

EVA=NOPAT –[{I(1-tax rate)d}+{(r+pß)e}] x capital employed.

Uraian/Remark

2006-07

2005-06

NOPAT

Capital Charge

EVA

127.4

(16.7)

110.0

120.5

(11.6)

108.9

Sumber: diadopsi dari GCPL, 2007

Hasil perhitungan EVA sebesar $ 110 dalam tahun 2006-07. Hal ini menunjukkan berarti kinerja perusahaan tergolong sehat sekali karena telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan. lni bermakna laba yang tersedia mampu melebihi harapan investor dapat mengembalikan pinjaman kreditur serta dapat menganggarkan pemberian bonus kepada karyawan.

3 Kesimpulan

Pengukuran kinerja keuangan merupakan hal yang sangat penting untuk menilai kesehatan suatu perusahaan. Efektivitas Pengukuran kinerja tersebut sangat dipengaruhi oleh metode pengukuran kinerja. EVA sebagai model pengukuran kinerja keuangan yang banyak digunakan perusahaan karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode lain. Diantaranya kebaikannya, yaitu meningkatkan kesejahteraan pemegang saham (Shareholders).

DAFTAR PUSTAKA

Amin Widjaya Tunggal. 2001. Memahami Konsep Economic Value Added (EVA) dan Value

Based Management (VBM). Jakarta: Harvarindo.

Bhattacharyya, A.K. & B.V.Phani1. 2007. Economic Value Added - A General

Perspective. (online http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=545444, diakses 23 Januari 2008)

Daft, R.L. 2006. Manajemen. Terjemahan oleh Dina Angelica. Edisi keenam. Jakarta:

Salemba Empat

Damodaran, Aswath 2007.Value Enhancement Strategies.(Online),

(http//www.stern.nyu.edu/pdfiles/eva.pdf.,diakses 23 Januari 2008).

David, S. Young and Stephen F. O'Byme. 2001. EVA & Manajemen berdasarkan

nilai:Panduan Praktis untuk lmplementasi (diterjemahkan oIeh"Lusy Widdjaj, Mba).

Jakarta: Penerbit SaIemba.

DeMalleno, Jim. 2006. Case in Finance. Terjemahan oleh Ika Permatasari. Edisi kedua. Jakarta: Salemba Empat

Godrej Consumer Product Limited (GCPL). 2007. Economic Value Added (EVA).

(online). (http//www.stern.nyu.edu/pdfiles/eva.pdf.,diakses 25 Januari 2008).

HeIfert, A., Erich. 1993. Analisis l.aporan Keuangan. Edisi Ketujuh. Jakarta: ErIangga.

Lukas Setia Atmajaya. 2002. Manajemen Keuangan. Edisi Revisi. Jakarta: ErIangga.

Martono, D Agus Harjito. 2003. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: EKONISIA Kampus

Fakultas Ekonomi UII.

Richard D. Brealey, Steward C. Myers. 2000. Principles of corporate Finance. 6 rh

ed. Boston: McGraw-Hill International Edition.

Sidharta Utama. 1997. EVA: Pengukur Penciptaan Nilai Perusahaan. Usahawan No. 4, Th

XXVI April 1997.

Stewart, G. Bennet., dan JoeI M. Stern. 1991. The Quest for Value: The EVA

Management Guid. New York: Horper Collins Publisher.

Suad Husnan. 2000: Manajemen Keuangan: Teori Dan Penerapan. Yogyakarta: BPFE.

Sony Yuhono , Edy. Sukarno & M. Ichsan. 2006. Petunjuk Praktis Penyusunan Balanced Scorecard. Jakarta: Gramedia.

23 September 2007

Evaluasi Strategi

Mengevaluasi suatu strategi merupakan langkah penting untuk dijadikan prasyarat terhadap dilanjutkan atau tidaknya sebuah strategi. Suatu strategi yang sedang diimplementasikan hendaknya jangan dievaluasi pada titik akhir tetapi pada saat strategi tersebut dijalankan, ini penting untuk menghindari adanya dampak yang lebih buruk jika strategi yang diformulasikan dari awal ternyata salah. Dalam evaluasi strategi terdapat beberapa variabel yang dapat dievaluasi sebagai dampak dari suatu strategi, variabel-variabel tersebut antar lain peningkatan aset, peningkatan profitabilitas, peningkatan produktivitas, peningkatan penjualan, peningkatan laba, ROI, laba per saham (EPS), dan lain-lain.
Variabel-variabel tersebut tentunya harus dibandingkan antara dasar (base line) yang digunakan sebelum pengimplementasian dan hasil ketika strategi dijalankan. Ketika evaluasi dilakukan tidak tertutup kemungkinan hasil yang diinginkan masih jauh dari hasil akhir yang diharapkan, pada keadaan tersebut penilaian terhadap strategi belum dapat dipastikan bahwa terjadi kesalahan formulasi strategi. Sebagai contoh, laba pada saat sekarang adalah sebesar Rp. 1.000.000,- dan pada dua tahun ke depan diharapkan menjadi Rp. 1.400.000,-. Pada akhir tahun pertama ternyata laba secara matematika paling tidak harus sebesar Rp. 1.200.000,- tetapi jika pada kenyataan laba pada akhir tahun pertama hanya sebesar Rp. 1.175.000,- apakah akan diputuskan bahwa formulasi strategi salah dan harus dibatalkan?
Variabel lainnya harus di evaluasi juga, seperti kemungkinan adanya peningkatan biaya yang terjadi, adanya perubahan regulasi perpajakan, perubahan terhadap keadaan perekonomian yang mengakibatkan perubahan terhadap pangsa pasar. Hasil evaluasi tersebut dapat dijadikan informasi dalam perubahan tindakan untuk menyusun formulasi strategi berikutnya.
Evaluasi merupakan suatu hal yang sangatlah kompleks, banyaknya faktor-faktor baik dari internal perusahaan maupun eksternal dapat mengakibatkan terjadinya selisih antara hasil yang diharapkan dan aktualnya. Selain proses evaluasi juga merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan khususnya dalam mengevaluasi karyawan. Pada dasarnya tidak seorang pun yang mau dievaluasi, apalagi ketika akan dievaluasi terlalu dekat. Jika pada hasil evaluasi terhadap, menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan harapan kemudian orang tersebut diberi tekanan maka tidak tertutup kemungkinan kinerja karyawan tersebut akan lebih buruk lagi kedepannya. Jadi evaluasi tidak hanya melihat seberapa hasil yang diperoleh tetapi bagaimana juga menindaklanjuti hasil evaluasi tersebut. Kompleksitas dari suatu proses evaluasi strategi hendaknya diringkas sedemikian rupa agar proses evaluasi tidak terlalu luas.
Terdapat tiga hal yang dapat dikombinasikan untuk melihat hasil suatu strategi dan dapat pula dijadikan acuan dalam mengambil tindakan, hal tersebut adalah: (1) keadaan internal, (2) keadaan eksternal, dan (3) kemajuan perusahaan ke arah yang diinginkan serta memuaskan. Secara logika perusahaan tidak menginginkan terjadinya perubahan pada sisi internal dan eksternal sehingga strategi dapat berjalan dan memberikan hasil yang diharapkan. Apabila terjadi perubahan pada sisi internal maupun eksternal namun hasil yang diharapkan pun tercapai maka tetap perlu manajer juga harus mampu mengambil suatu pelajaran untuk dijadikan pertanyaan sekaligus masukan pada penyusunan strategi berikutnya, terlebih lagi jika terjadi hasil tidak tercapai sebagai akibat perubahan internal dan eksternal perusahaan. Strategi yang bagus hendaknya mampu mempersiapkan strategi lainnya dalam rangka mengantisipasi adanya perubahan internal dan eksternal, dengan kata lain jangan menformulasikan suatu strategi ketika perubahan telah terjadi karena akan membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi.
Peranan audit dalam evaluasi strategi. Audit laporan terhadap laporan keuangan oleh pihak eksternal dapat pula dikatakan sebagai proses evaluasi, audit akan memberikan laporan-laporan tentang hal-hal yang berjalan tetapi tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, laporan audit tersebut dapat dijadikan sebagai informasi tambahan dalam menilai hasil implementasi suatu strategi dan pemanfaatan informasi hasil audit tersebut juga merupakan bagian strategi dalam melakukan proses evaluasi karena akan proses audit yang dilakukan oleh pihak eksternal tentunya akan menghemat penggunaan sumber daya internal dalam proses evaluasi dan mendapatkan informasi.
Model evaluasi lain yang sangat baik dan lebih komprehensif adalah evaluasi dengan balance score card, evaluasi dengan balance score card akan melihat beberapa aspek, antara lain (1) aspek keuangan, (2) aspek pelanggan, (3) aspek infrastruktur, dan (4) aspek proses bisnis. Evaluasi dengan aspek keuangan telah banyak dilakukan untuk melihat peningkatan suatu perusahaan, namun perlu disadari aspek keuangan tidak terlepas dari aspek-aspek lainnya. Keadaan keuangan perusahaan yang baik bukan satu-satunya gambaran terhadap kemajuan suatu perusahaan, pelanggan yang tidak puas namun tidak mengajukan keberatan karena ketidaktahuan proses melakukan pengaduan atau mungkin membutuhkan waktu dan biaya menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan. Alat yang digunakan oleh perusahaan dalam beraktivitas juga merupakan suatu hal yang sangat menentukan hasil dari sebuah strategi demikian pula proses bisnis. Pada akhir-akhir ini terdapat ukuran baru sebagai tambahan dari penilaian dalam balance score card, ukuran tersebut adalah aspek lingkungan, pada aspek ini perusahaan hendaknya mampu memperhatikan dampak lingkungan dari proses bisnis.

Implementasi Strategi



Mengimplementasikan suatu strategi tentunya akan memberikan pengaruh baik secara langsung maupun secara tidak langsung kepada seluruh elemen dalam perusahaan seperti para manajer, karyawan baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Pada pihak luar juga akan terpengaruh dengan implementasi suatu strategi, pihak-pihak luar tersebut antara lain pemegang saham, pemasok, pesaing, pelanggan, dan pemerintah. Dengan kata lain pengaruhnya sangatlah luas, tidak hanya terbatas pada share holder bahkan pada lingkup stake holder.


Segmentasi dan positioning produk sebagai alat implementasi strategi. Pemasaran suatu produk merupakan salah satu proses yang harus ditempuh oleh setiap perusahaan. Jika dibandingkan dengan proses yang sifatnya intern perusahaan seperti produksi, kendala-kendala yang akan ditemukan lebih banyak kendala yang bersumber dari dalam perusahaan dan tentunya kendala tersebut lebih mudah diatasi karena posisinya yang mudah dikendalikan oleh pihak manajemen. Proses pemasaran memiliki keunikan tersendiri karena akan lebih dipengaruhi variabel ekstern yang tentunya sangatlah sulit bagi manajemen untuk melakukan intervensi. Sebagai contoh penetapan harga yang terendah menurut hitungan perusahaan dalam rangka meningkatkan jumlah pelanggan akan mengalami kendala adanya perusahaan lain yang mampu menerapkan harga yang lebih rendah lagi, pada kasus ini tidak mungkin pihak manajemen perusahaan melakukan intervensi dengan melarang
perusahaan lain dalam menerapkan harga.


Harga pada yang dicontohkan di atas hanyalah salah satu strategi yang dapat diimplementasikan. Strategi lain yang dapat dipilih adalah dengan cara melakukan segmentasi pasar, pada strategi ini menentukan siapa pelanggan yang akan dijadikan sasaran. Ketika mendapat pertanyaan siapa yang akan dijadikan sasaran, maka jawabannya tidak hanya menunjukkan orang perorangan tetapi akan menunjuk suatu kelompok, seperti pelanggan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, pelanggan yang dikelompokkan berdasarkan umur, pelanggan yang dikelompokkan berdasarkan wilayah, kelompok berdasarkan penghasilan, dan sebagainya. Kelompok pun dapat dikombinasikan seperti kelompok laki-laki yang berumur antara 20 tahun s/d 30 tahun yang berada di wilayah Makassar dan berpenghasilan antara Rp. 1.000.000 s/d Rp. 2.000.000. Menentukan sasaran pelanggan dengan cara seperti ini akan memudahkan dalam proses dalam menentukan langkah-langkah yang harus dipersiapkan demikian pula mempermudah dalam mengevaluasinya. Selain itu dengan penentuan sasaran pasar akan memudahkan dalam menentukan teknik cara memasarkan suatu produk, termasuk media iklan apa yang harus digunakan, sarana penjualan yang akan digunakan dan sebagainya. Sebagai contoh perusahaan memproduksi mobil dengan sasaran pelanggan adalah orang-orang yang berpenghasilan di atas Rp. 10.000.000 per bulan, tentunya dalam mengiklankan produk tersebut tidak mungkin dilakukan melalui media radio atau dengan selebaran selebaran yang akan dibagikan di pojok-pojok jalan, di angkutan umum.


Perkembangan dunia cyber menjadi salah satu media pemasaran yang sangat favorit saat ini, media ini relatif terhitung murah dan memiliki jangkauan yang sangat luas sekalipun demikian masih ada terdapat beberapa wilayah tertentu yang belum terjangkau karena keterbatasan fasilitas pelanggan untuk mengakses internet, seperti di pedesaan.


Selain penentuan sasaran, strategi lain yang diminati saat ini adalah dengan melakukan positioning produk. Mungkin Anda pernah mengunjungi beberapa tempat perbelanjaan pakaian untuk mencari pakaian yang sesuai dengan keinginan Anda. Setelah mengunjungi beberapa tempat tersebut Anda membuat kesimpulan bahwa pakaian yang anda cari berada pada salah satu tempat (anggaplah tempat A), maka di kemudian hari jika Anda akan mencari lagi maka peluang untuk tidak mengunjungi tempat A tersebut akan lebih kecil karena Anda sudah mengetahui bahwa di tempat tersebut bisa menemukan pakian yang diinginkan atau mungkin ketika salah satu teman Anda ingin membeli pakaian kemudian Anda merekomendasikan untuk ke tempat A. Pada kasus di atas tempat A sebagai salah satu tempat penjual pakaian telah berhasil memposisikan diri sebagai penjual produk yang sesuai yang anda inginkan. Keinginan tersebut bisa saja dipengaruhi karena harga, kualitas, pelayanan dan sebagainya. Selain dengan cara seperti itu, seorang konsumen pun biasanya akan memilih sebuah produk yang dianggapnya bagus karena citra yang melekat pada produk tersebut, seperti pada kasus barang elektronik produk-produk bermerk Sony merupakan suatu produk yang tidak mungkin ditolak oleh konsumen jika ditawarkan pada produk lain yang memiliki fungsi, harga atau variabel lain yang pada dasarnya sama dengan produk Sony tersebut. Terdapat beberapa faktor yang dapat menentukan posisi suatu produk diminati oleh konsumen seperti harga, kualitas, modal. Faktor lain yang tidak melekat pada produk adalah pelayanan (personaliti), kenyamanan, dan sebagainya.


Proyeksi laporan keuangan sebagai alat implementasi strategi utama. Melakukan proyeksi laporan keuangan merupakan salah satu langkah penting dalam melihat dampak dari pemilihan dan pengimplementasian strategi baru. Setiap strategi baru biasanya bertujuan untuk peningkatan laba, peningkatan laba tersebut dapat dilakukan dengan melakukan peningkatan penjualan atau penurunan biaya. Jika peningkatan penjualan yang ditempuh maka hendaknya laporan keuangan proyeksi dibuat dengan cara mengubah angka penjualan terlebih dahulu kemudian mengubah dampak-dampak lain dari perubahan penjualan tersebut seperti berapa besar perubahan harga pokok penjualan (secara total) , jumlah biaya yang akan terjadi. Secara umum jumlah harga pokok penjualan akan berbanding lurus dengan perubahan penjualan. Demikian pula biaya, terdapat biaya yang tidak dipengaruhi oleh peningkatan penjualan seperti biaya tetap. Namun ada kondisi lain pada biaya akan meningkat dengan dilakukannya peningkatan penjualan, sebagai contoh jika pada saat sekarang perusahaan tersebut adalah perusahaan manufaktur dan telah beroperasi dengan kapasitas 100% tentunya perubahan jumlah penjualan akan diikuti jumlah yang seharusnya diproduksi dan peningkatan produksi tersebut akan mengakibatkan dibutuhkannya peralatan produksi yang baru. Penambahan alat produksi yang baru akan mengakibatkan penambahan biaya penyusutan. Proyeksi dengan penurunan biaya dapat pula dilakukan namun mungkin akan meningkatkan komponen biaya lainnya. Sebagai catatan penting, proyeksi penjualan maupun biaya hendaknya dihitung secara akurat.


Apabila penjualan atau biaya telah diproyeksi maka laporan laba rugi proyeksi telah dapat disusun, dengan selesainya proyeksi laporan rugi laba maka proyeksi neraca dapat dibuat. Neraca proyeksi jangan dibuat dengan mendahului proyeksi laporan laba rugi karena terdapat beberapa angka pada neraca yang nilainya diperoleh dari laporan laba rugi. Agar proyeksi tersebut dapat dipahami oleh semua pembacanya maka hendaknya ditambahkan catatan-catatan yang mendasari atau asumsi-asumsi yang digunakan. Proyeksi lain yang tidak kalah pentingnya adalah proyeksi terhadap arus kas, dalam proyeksi arus akan memperlihatkan jumlah kas yang akan diterima dan akan dibayarkan pada masa mendatang. Penggunaan proyeksi laporan keuangan akan sangat membantu bagi pihak manajemen, calon investor dan calon kreditor dalam mengukur kinerja perusahaan di masa depan.


Daya tarik pinjaman versus saham sebagai sumber modal bagi implementasi strategi. Dalam pelaksanaan strategi yang telah diformulasikan biasanya memerlukan dana untuk mengimplementasikannya. Sumber dana yang dapat digunakan jika tidak tersedia dalam perusahaan adalah dengan cara melakukan pinjaman atau menerbitkan saham. Terdapat beberapa alat analisa yang dapat digunakan untuk penentuan sumber pendanaan ini, pada kali ini akan diperlihatkan dua alat analisa, yaitu dengan analisa laba dan analisa EPS (Earning Per share). Dalam analisa laba, sederhanya yang akan dibandingkan adalah jumlah laba yang diperoleh, laba dijadikan sebagai indikator dalam penilaian karena laba ini akan mempengaruhi tingkat pengembalian (Return On Investment – ROI), semakin besar perolehan laba maka pengembalian atas investasi semakin cepat. Dalam analisa EPS, yang akan diamati adalah seberapa besar peningkatan EPS. EPS ingin mengindikasikan peningkatan kesejahteraan yang diperoleh pemegang saham, EPS ini diukur dengan cara membagi laba setelah bunga dan pajak (Earning After Tax – EAT) ke jumlah saham yang beredar. Dengan asumsi bahwa dengan sumber pendanaan dari pinjaman maupun saham akan menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak (Earning Before Interest and Tax – EBIT) yang sama, tetapi akan berbeda pada sisi EAT, EAT dengan pendanaan bersumber dari saham akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan sumber pendanaan dari pinjaman karena, hal ini dikarenakan adanya biaya bunga yang muncul ketika pendanaannya dari pinjaman. Pada sisi lain, sekalipun EAT lebih besar jika pendanaan dari saham namun belum tentu EPS lebih besar, hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah saham yang beredar jika menggunakan saham. Contoh berikut ini akan memberikan gambaran dampak terhadap laba setelah pajak (EAT) dan EPS dengan sumber pendanaan dari saham dan pinjaman, asumsi pada contoh adalah: (1) saham yang beredar sebelum pendanaan 2.000 lembar; (2) EBIT sebelum pendanaan Rp. 9.000.000,- dan setelah pendanaan Rp. 15.000.000,- (3) dana yang dibutuhkan Rp. 10.000.000,-; (4) harga saham yang akan diterbitkan Rp. 10.000,- per lembar; (5) tingkat suku bunga pinjaman 20%; dan (6)persentase pajak 25%.



Jika dilihat dari hasil perhitungan di atas, maka EAT yang paling tinggi adalah ketika pendanaan bersumber dari saham, hal ini dikarenakan tidak adanya biaya bunga, sementara EPS yang paling tinggi akan terjadi ketika pendanaan bersumber dari pinjaman hal ini diakibatkan adanya peningkatan laba sementara jumlah saham yang beredar. Analisa dengan melihat perubahan EAT dan EPS merupakan cara yang baik, jika perusahaan akan fokus pada peningkatan EAT maka sebaiknya perusahaan memilih pendanaan dengan saham karena makin kecil pinjaman maka akan lebih kecil pula beban bunga yang harus ditanggung, namun apa bila akan fokus pada peningkatan EPS maka sebaiknya perusahaan sebaiknya memilih pinjaman karena tidak akan mengakibatkan penambahan jumlah saham yang beredar. Hal ini bisa dijadikan alat analisa dengan asumsi bahwa pendanaan baik saham maupun pinjaman memberikan peningkatan EBIT yang sama.

14 September 2007

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR

Oleh: Muh. Iskandar Sabang

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai tukar mata uang, faktor-faktor tersebut adalah:

  1. Ekspor impor, uang pada dasarnya bukan hanya sebagai alat pembayaran tetapi uang pun sama halnya dengan komoditi lainnya yang dapat diperdagangkan. Oleh karena uang tersebut dapat diperdagangkan maka nilai sebuah mata uang akan dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran uang tersebut, semakin banyak permintaan akan suatu mata uang maka akan mengangkat nilai tukar mata uang tersebut dan jika banyak penawaran atas mata uang tersebut maka nilainya pun akan turun. Yang menjadi penyebab atas permintaan dan penawaran atas uang adalah adanya kegiatan ekspor dan impor. Sebagai contoh jika Indonesia akan mengimpor dari Amerika maka Indonesia tentunya membutuhkan Dollar untuk membayar impor tersebut, dan pada saat itulah nilai Dollar akan meningkat.
  2. Inflasi, inflasi adalah kondisi meningkatnya harga barang atau jasa, dengan kata lain menurunnya daya beli suatu mata uang terhadap barang atau jasa. Sebagai contoh pada kondisi normal barang A di Indonesia dinilai dengan harga Rp. 1.000 dan di Amerika dinilai US$ 100 atau Rp. 1.000 setara dengan US$ 100, pada saat di Indonesia terjadi inflasi sebesar 50% dan pada saat yang bersamaan inflasi di Amerika sebesar 10% maka barang A di Indonesia akan dinilai sebesar Rp. 1500 (1.000 + (1.000 x 50%)) dan di Amerika menjadi US$ 110 (100 x (100 x 10%)). Apabila dibandingkan dengan kondisi normal, jika orang Amerika akan membeli barang A maka harus membayar sebesar US$ 150 (100/1000 * 1500) berarti orang Amerika akan lebih membeli di negaranya sendiri karena harganya hanya sebesar $ 110 hal ini akan menyebabkan turunnya potensi ekspor yang akhirnya akan mengurangi permintaan Rupiah oleh orang Amerika. Sebaliknya jika orang Indonesia akan membeli barang A di Indonesia maka harus mambayar sebesar Rp. 1.500 dan jika dikonversi ke dollar maka akan bernilai US$ 150 sementara pada saat yang sama di Amerika hanya bernilai US$ 110 berarti orang Indonesia akan lebih memilih untuk mengimpor dari Amerika, kegiatan impor ini akan menyebabkan tingginya permintaan mata uang dollar yang akhirnya akan meningkatkan nilai dollar terhadap rupiah.
    Dengan asumsi bahwa mata uang dollar tidak mangalami inflasi dan rupiah menurun dari Rp. 1000 menjadi Rp. 1500 maka kondisi tersebut dikatakan US$ mengalami apresiasi terhadap rupiah atau rupiah mengalami depresiasi terhadap dollar.
    Besarnya apresiasi atau depresiasi dapat dihitung dengan cara seperti berikut: Apresiasi (depresiasi $) = (kondisi1 – kondisi0 )/ kondisi0 ==> (1500 – 1000) / 1000 = 50%; Apresiasi (depresiasi Rp) = (kondisi0 – kondisi1)/kondisi1 ==>(1000 – 1500) / 1500 = 33,33%
  3. Tingkat bunga, secara teori tingkat bunga merupakan tingkat keuntungan riil ditambah dengan tingkat keuntungan premi risiko. Premi risiko adalah tingkat keuntungan untuk menutupi risiko seperti risiko inflasi, likuiditas dan lain-lain sebagainya. Jadi apabila tingkat bunga lebih kecil dari pada tingkat inflasi maka tingkat bunga tersebut tidak akan menarik minat penabung. Hubungannya dengan nilai tukar, apabila inflasi di Indonesia mencapai 50% dan di Amerika sebesar 10% maka tingkat bunga yang sebaiknya di Indonesia adalah di atas 50% dan di Amerika adalah di Atas 10%. Apabila tingkat suku bunga di Indonesia hanya sebesar 30% dan di Amerika sebesar 20% maka minat penabung untuk mendepositokan uangnya di Indonesia akan berkurang dan akan beralih menabung dalam bentuk dollar, akibatnya permintaan akan dollar akan meningkat dan permintaan inilah yang meningkatkan nilai tukar dollar. Sebagai contoh, pada kondisi normal untuk membeli sebuah barang dibutuhkan uang sebesar Rp. 1.000 atau sebesar US$ 100. Ketika di Indonesia terjadi inflasi sebesar 50% dan di Amerika terjadi inflasi 10% maka uang yang dibutuhkan untuk membeli suatu barang sebesar Rp. 1500 atau US$ 110 Jika uang sebesar Rp. 1.000 ditabung dengan tingkat bunga sebesar 40% (di bawah 50%) maka akan akhirnya akan menjadi Rp. 1.400 dan di Amerika tingkat bunga 10% (sama dengan tingkat inflasi) maka uang US$ 100 akan menjadi US$ 110. Coba perhatikan karena inflasi pada kedua negara maka barang yang nilainya US$ 110 dapat dibeli dengan uang Rp. 1.500 namun karena ditabung maka untuk membeli barang tersebut tidaklah cukup karena hanya menghasilkan Rp. 1.400.
  4. Market expectation (pengharapan pasar) pada kondisi masa datang, sebagai illustrasi pada pengharapan pasar ini adalah jika suatu barang pada masa mendatang harganya diperkirakan akan turun drastis maka barang tersebut akan dijual pada saat sekarang untuk menghindari kerugian yang lebih besar, atau sebaliknya jika diperkirakan akan meningkat tajam (daya beli uang menurun) karena terjadinya inflasi maka barang tersebut akan dibeli segera atau dibelanjakan dengan membeli mata uang yang nilainya stabil. Jika uang dianggap sebagai suatu komoditi/barang maka apabila nilainya tukarnya diperkirakan tinggi pada masa mendatang (US$. 1 sebesar Rp. 9.000 diperkirakan menjadi Rp. 8.000) maka uang tersebut akan dipertahankan tetapi jika pada masa mendatang diperkirakan turun (US$. 1 sebesar Rp. 8.000 diperkirakan menjadi Rp. 9.000) maka uang tersebut akan dibelanjakan sesegera mungkin. Hal inilah yang akan menjadi pemicu untuk melakukan permintaan atau penawaran atau suatu mata uang. Pengharapan pasar ini dapat dipicu oleh berbagai hal diantaranya adalah perkiraan inflasi pasar masa mendatang, alasan lainnya adalah dengan pertimbangan kredibilitas atau independensi dari bank sentral dalam hal ini pimpinan bank sentral, jika bank central ketat dalam hal penetapan tingkat suku bunga maka hal ini akan mempengaruhi harapan pasar.
  5. Intervensi bank central di pasar valuta asing, intervensi bank central dapat dilakukan dengan cara melakukan pengendalian terhadap suku bunga atau dengan cara menjual atau melakukan pembelian secara langsung mata uang asing di pasaran. Jika nilai rupiah mengalami apresiasi yang tinggi maka bank sentral akan menurunkan tingkat bunga atau melakukan pembelian mata uang asing dan sebaliknya jika mengalami depresiasi maka suku bunga akan dinaikkan atau dengan menjual mata uang asing.

10 September 2007

RISIKO dan BETA

Oleh: Muh. Iskandar Sabang
RISIKO
Dalam melakukan investasi, investor biasanya akan mempertimbangkan dua hal yaitu seberapa besar return yang dapat diperoleh dan seberapa besar risiko yang mungkin dihadapi. Risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return aktual yang diterima dengan return yang diharapkan, semakin besar kemungkinan perbedaannya maka berarti semakin besar risiko investasi tersebut. Terdapat beberapa sumber risiko yang dapat mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi, sumber tersebut antara lain (Tandeliling, 2001):
  1. Risiko suku bunga
  2. Risiko pasar
  3. Risiko inflasi
  4. Risiko bisnis
  5. Risiko finansial
  6. Risiko likuiditas
  7. Risiko nilai tukar mata uang
  8. Risiko negara

Di samping berbagai sumber risiko tersebut, dalam manajemen investasi modern juga dikenal pembagian risiko total investasi ke dalam dua jenis resiko, yaitu risiko sistematis dan resiko tidak sistematis.

Risiko sistematis adalah bagian risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan pembentukan portofolio, Risiko ini akan ditemui pada semua jenis investasi. Risiko ini terjadi karena kejadian-kejadian diluar kegiatan perusahaan seperti inflasi, resesi, dan lain sebagainya. Risiko ini sering pula disebut dengan risiko yang tidak dapat didiversifikasikan atau risiko pasar atau risiko umum.

Risiko tidak sistematis merupakan risiko sekuritas yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio, risiko ini akan ditemui pada salah satu investasi namun tidak akan ditemui pada jenis investasi lainnya, risiko ini merupakan risiko unik suatu perusahaan. Risiko ini disebabkan oleh kejadian intern sebuah perusahaan seperti pemogokan buruh, tuntutan oleh pihak lain, penelitian yang tidak berhasil dan sebagainya. Risiko ini sering pula disebut risiko perusahaan atau risiko spesifik atau risiko yang tidak dapat didiversifikasikan.
Sebagai gambaran berikut ini adalah beberapa risiko yang terjadi dalam beberapa perusahaan:


Risiko A merupakan risiko tidak sistematis karena hanya ditemukan ketika melakukan investasi pada saham perusahaan X demikian pula risiko B, risiko C juga merupakan risiko tidak sistematis karena risiko tersebut tidak terjadi pada perusahaan Y sedangkan risiko D merupakan risiko yang sifatnya sistematis karena terjadi pada saat melakukan perusahaan X, Y dan Z.

Hasil penjumlahan risiko yang ditemukan pada suatu investasi disebut dengan risiko total, pada contoh di atas, risiko total pada perusahaan X adalah risiko A + C + D. Dalam hal portofolio risiko total akan semakin kecil dialami oleh investor jika melakukan investasi dengan tingkat diversifikasi yang lebih banyak sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut:


BETA

Beta merupakan suatu pengukur volatilitas (volatility) return suatu sekuritas (gain + deviden/bunga) atau return portofolio terhadap return pasar. Volatilitas sendiri adalah frekuensi dari return-return suatu sekuritas atau portofolio suatu sekuritas dalam suatu periode waktu tertentu. Beta sekuritas ke - i mengukur volatilitas return sekuritas ke-i dengan return pasar. Beta portofolio mengukur volatilitas return portofolio dengan return pasar, dengan demikian risiko sistematis dari suatu sekuritas atau portofolio relatif terhadap suatu pasar. Jika volatilitas suatu sekuritas atau portofolio secara statistik mengikuti fluktuasi dari return-return pasar, maka beta dari suatu sekuritas atau portofolio tersebut dikatakan bernilai 1. Karena fluktuasi juga sebagai pengukur dari risiko (varian return sebagai pengukur resiko merupakan fluktuasi dari return-return terhadap ekspektasinya), maka beta bernilai 1 menunjukkan bahwa risiko sistematis suatu sekuritas atau portofolio sama dengan risiko pasar. Beta bernilai 1 ini menunjukkan bahwa perubahan return pasar sebesar x%, secara rata-rata, sekuritas atau portofolio akan berubah juga sebesar x%.

Dilihat dari peruntukan beta dalam kaitannya dengan risiko sistematis maka beta dapat dibagi dua yaitu beta sekuritas dan beta portofolio. Untuk mengetahui beta portofolio maka beta masing-masing sekuritas perlu dihitung terlebih dahulu.

Beta suatu sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang menggunakan data historis yang selanjutnya beta hasil perhitungan dapat digunakan untuk mengestimasi beta masa datang. Beta data historis dapat dihitung dengan menggunakan data historis berupa data pasar (return sekuritas dan return pasar), data akuntansi (laba-laba perusahaan dan laba index pasar) atau data fundamental (menggunakan variabel-variabel fundamental). Beta yang dihitung dengan data pasar disebut dengan beta pasar, beta yang dihitung dengan data akuntansi disebut dengan beta akuntansi dan beta yang dihitung dengan data fundamental disebut dengan beta fundamental.

Beta pasar dapat diestimasi dengan mengumpulkan nilai-nilai historis dari sekuritas dan return dari pasar selama periode tertentu. Dengan asumsi bahwa hubungan antara return-return sekuritas dan return-return pasar adalah linear maka beta pasar dapat diestimasi dengan cara memplot garis diantara titik return.

Contoh berikut adalah return sekuritas saham A (RA) dan return pasar dengan IHSG (RM):

Besarnya beta pasar untuk saham A di atas adalah:

Beta juga dapat dihitung dengan menggunakan teknik regresi, teknik regresi untuk mengestimasi beta suatu sekuritas dapat dilakukan dengan menggunakan return-return sekuritas sebagai variabel dependent dan return-return pasar sebagai variabel independent. Persamaan regresi yang dihasilkan dari data time series akan menghasilkan koefisien beta yang diasumsikan stabil dari waktu ke waktu, jika sifatnya stabil maka semakin lama periode observasi yang digunakan pada persamaan regresi, semakin lebih baik hasil dari beta. Persamaan regresi yang digunakan untuk mengestimasi beta dapat didasarkan pada indeks tunggal atau model pasar dan dapat pula dengan menggunakan model CAPM (Capital Asset Pricing Model).

Beta dengan index tunggal dapat dihitung dengan persamaan berikut:


Berikut ini adalah hasil perhitungan dengan teknik regresi:
Dari hasil regresi di atas, persamaan regresi yang didapat adalah:

Beta merupakan koefisien parameter dari variabel RM, yaitu sebesar 0,827464789. Koefisien ini adalah sifginifikan dengan p-value 0,0000378. Beta yang diperoleh dari teknik regresi tidak menyimpang jauh dari beta yang dihitung dengan teknik plotting sebesar 1,09.

Beta dengan model CAPM (Capital Asset Pricing Model) dapat dihitung dengan persamaan berikut:
Dengan model ini return market ditambahkan dengan return-return bebas resiko (RBR)

Berikut ini adalah hasil perhitungan dengan teknik regresi:
Dari hasil regresi di atas, persamaan regresi yang didapat adalah:
Besarnya beta adalah 0,561864341 yang secara statistik signifikan dengan P-value 0,009473
Secara definisi beta merupakan pengukur volatilitas antara return-return suatu sekuritas (portofolio) dengan return-return pasar. Jika volatilitas diukur dengan kovarian, maka kovarian return antara sekuritas ke – i dengan return pasar adalah sebesar σiM. Jika kovarian ini dihubungkan dengan relatif risiko pasar (yaitu dibagi dengan varian return pasar atau σM2) maka hasil ini akan mengukur risiko sekuritas ke – i relatif terhadap risiko pasar atau disebut dengan beta. Dengan demikian beta dapat dihitung dengan:

Besarnya beta adalah sebagai berikut:













Praktikum Manajemen Keuangan

PRAKTEK MANEJEMEN KEUANGAN

Buku Praktikum ini di susun oleh tim pengajar manajemen dan keuangan Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Ujung Pandang. Disusun dalam 2 buah buku yaitu Buku 1 berupa informasi perusahaan dan kasus-kasus perusahaan yang akan di selesaikan, buku 2 merupakan lembar kerja untuk penyelesaian kasus-kasus dalam buku 1. Bahan praktek ini terdiri dari 6 job yaitu: Manajemen Modal Kerja (Working Capital Management), Manajemen Kas dan Sekuritas (Cash and Securities Managemen), Manajemen Persediaan (Inventory Management), Manajemen Piutang (Account Receivable Management), Biaya Modal dan Struktur Modal (Cost of Capital and Capital Structure), Analisis Leverage (Leverage Analysis) dan Penganggaran Modal (Capital Budgeting).

Informasi lebih lanjut untuk memperoleh buku ini, dapat mengubungi Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan Jurusan Akuntanasi Politeknik Negeri Ujung Pandang melalui e-mail accounting_pnup@yahoo.com atau iskandarsabang@yahoo.com